Jadi, adakah yang salah?

Rende, 2 Juni 2013. 19.46 CEST.

Kalimat yang sering banget saya dengar dalam seminggu ini adalah ‘berubah’.
“Kamu udah berubah..”
“Dia sekarang udah gak kayak dulu, berubah.”
“Iya, aku memang udah berubah..”

Semua tentang perubahan. Dan satu sama lain saling menuduh kalau dialah yang berubah.

Dan saya?

Iya, saya mungkin sudah banyak berubah sejak kuliah di Jatinangor dulu dan banyak juga berubah beberapa bulan belakangan ini.

Tadi sahabat saya baru saja menuduh saya sudah berubah karena saya bosan ketika menonton Rectoverso,
“@cutisyana no wonder lo merasa sdkit bosen dgn #rectoverso, karena lo udah berubah, makanya gw yakin lo bakal suka #supernova :)))”

Yah apapun itulah, tapi memang saya gak sama dengan Nyanya 3 tahun yang lalu atau 2 bulan yang lalu. Banyak hal yang membuat saya gak sama seperti dulu, karena pengalaman, orang lain, keinginan diri untuk menjadi lebih baik, atau untuk menjaga diri agar tidak melakukan kebodohan yang sama.

Untuk saya, ada perubahan yang memang terjadi secara permanen atau hanya temporer.

Perubahan kontemporer seperti contohnya yang terjadi 5 bulan belakangan ini, ketika saya lebih suka mengurung diri di kamar daripada jalan-jalan ke rumah teman, demi merenungi tesis. Haha.
Sampai-sampai ketika saya bertemu dengan teman-teman saya, kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah,
Isyana, where have you been?”
“Oh my, you’re still alive,” dan
“ni anak, gak pernah keliatan dimana-mana deh!”

Sampai-sampai ada beberapa teman yang bela-belain ke kamar saya demi melihat saya. Makasih buat usahanya ya.

Tapi perubahan jadi ‘anak kamar-an’ itu cuman sementara. Sehabis tesis ini selesai, saya pasti kembali jadi Nyanya yang selalu ada dimana-mana.

Tapi juga beberapa bulan terakhir saya mengalami perubahan yang saya harapkan permanen. Berubah menjadi lebih skeptis terhadap satu hal, lebih kuat, dan lebih logis dalam memandang apa yang sedang dan akan terjadi.

Perubahan bagi saya bukan trend. Tapi kalau kita bisa melihat sedikit saja mengapa orang didekat kita berubah sikapnya terhadap kita, kemungkinan alasannya ada dua: karena kita atau karena dia memang sedang ingin berubah.

Pertanyaannya, adakah yang salah bila saya berubah? Bila kita berubah?

4 thoughts on “Jadi, adakah yang salah?

  1. mungkin shock terapi melihat org yg berubah krn ngerasa ga ngenalin nih org lageeee, tp yg jelas krn ga ngikutin proses perubahannya..mangkanya jd “heh? sumpeh lho?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *