Dibawah Salju

Kita akan ketemu lagi dibawah salju nanti, tenang aja..” ucapmu sambil menepuk pelan kepalaku dua kali.

Aku mendongakan kepala karena kamu jauh lebih tinggi dari aku. Dan kamu selalu begitu sejak dulu, “kenapa harus salju gitu? Kenapa gak ketemuan di mall aja, kan banyak juga di Jakarta. Atau di Dufan kek, biar sekalian main bareng.”

Kamu ketawa lalu menyentuh keningku perlahan dengan telunjukmu, “kan keren aja dibawah salju. Bukannya kamu pingin sekolah di Eropa nanti?”

Aku tersenyum sedih kemudian mengangguk.

Itu adalah terakhir kalinya aku melihat kamu, merasakan tepukan-tepukan lembut yang sebenarnya maksudnya mengejek tapi aku selalu suka, dan mendengar ejekan mengesalkan kamu. Aku melihat punggung kamu menjauh saat itu dengan berabagai macam kalimat di otak yang ingin aku teriakan kepadamu tapi selalu tertahan dilidah.

Mendadak kamu berbalik arah dan berteriak sambil melambai, “Inget, dibawah salju!”

Iya, dibawah salju. Nanti..” aku menghela napas lalu pulang.

………………………………………………………………………………………

Dilaaa! Bangun! Lo ada janji sama profesor bukannya?”

Hah?” aku langung menjauhkan hadphone dari kupingku, “iya iya, janjian jam 8. Makasih udah dibangunin ya.”

Bangun! Sekarang! Now!” Tata, sahabatku, masih teriak-teriak di handphone. Aneh kenapa dia punya semangat yang sebegitunya padahal sekarang masih jam 6 pagi. Subuh juga masih 30 menit lagi padahal.

Iyaaaa! Dadah. Ketemu di Centrum ya nanti.” aku mematikan handphone dan mulai melakukan rutinitas pengecekan berita di sosial media Twitter dan Facebook. Oh oke, Vicky entah siapa berhasil mengarang kosakata baru yang njelimetnya ngalahin bahasa Belanda. Semua kata kenapa jadi ada imbuhan ‘-sisasi’ nya begini. Dan ada berita lagi tentang mantan tunangannya Vicky yang ternyata baru sehari tunangan langsung putus. Putri Gotik namanya. Kenapa juga harus Gotik? Dia dandanannya Gotik kali ya.

Aku menscroll ke berita selanjutnya yang masih membahas Mbak Gotik tapi kali ini dengan kepanjangannya, Gotik = Goyang Itik. Eyalah, opo lagi ini?

Scroll, scroll, scroll. Berita kecelakaan, pembunuhan, korupsi, artis lebay. Indonesia, gak ada berita yang okean dikit apa?

Scroll.

Berita tentang pembukaan beasiswa ke Belanda.

Ah, Belanda.

Sudah 8 bulan aku disini sejak aku mendapatkan beasiswa dari salah satu organisasi international yang memang terkenal suka membagi-bagikan beasiswa bagi mahasiswa dari Asia dan negara-negara berkembang agar bisa melanjutkan pendidikan ke S2 di dua atau lebih negara. Tahun lalu aku di Italia. Italia Selatan tepatnya, yang kalau kamu mau iseng coba mengecek tempat kuliah aku, aku ada di bagian heels-nya si negara Italia yang bentuknya kayak sepatu boots itu. Lokasinya dekat dengan benua Afrika, itulah kenapa ketika winter suhu disana tidak sedingin bagian Eropa lainnya. Tapi tetap aja kita pernah merasakan suhu minus. Dan jangan tanya bagaimana summer kami. 40 derajat lebih tanpa angin. Aku ulangin, tanpa angin! Keringat bercucuran sepanjang hari. Tidur selalu hanya bisa 3 jam karena sisanya aku kepanasan. Tapi bagian yang paling menyenangkan adalah akhirnya berat badanku turun karena aku jadi malas makan. Karena untuk makan aku harus mengunyah, dan ketika mengunyah berarti aku akan keringatan. Hasilnya aku kurusan. Hihi.

Tapi hari ini adalah pertengahan bulan Januari, yang berarti winter. Winter di Belanda gak usah ditanyalah ya bagaimana dinginnya, karena ketika summer saja suhunya sering dibawah 10 derajat. Aku sejak dulu selalu lupa untuk membeli long john, dalaman khusus penahan dingin, jadilah aku membarikade diriku sendiri dengan berlapis-lapis baju, celana, dan kaos kaki. Hasilnya ketika aku mengaca, aku semakin mirip boneka salju yang putih dan bulat dari atas kebawah. Hah.

Aku keluar apartemen dan segera menuju lapangan parkir sepeda. Sepedaku berwarna coklat, besar, tua, dan jelek karena harganya murah. Lagian kayaknya aku juga jarang melihat sepeda bagus di Belanda, rata-rata tua dan besar. Persis kayak sepeda kakek aku di Aceh.

Aku tinggal di Leiden, salah satu kota kecil dekat Amsterdam. Kota yang cantik yang bisa aku jelajahi dengan si Coklat.

Aku menggenjot Coklat dengan berhati-hati karena jalanan masih sangat licin. Beberapa kali salju turun selama beberapa hari disini, kemudian berhenti, lalu turun lagi.

Ah, salju.. Seharusnya aku bisa ketemu kamu disini ya, Dam. Kan katanya kita akan ketemu dibawah salju. Tapi akunya ada di Belanda, kamunya malah kuliah di Jepang. Gimana cara ketemunya kalau begini.

Aku mendengus kesal dan yang keluar adalah uap putih hangat dari mulutku. Musim dingin yang indah. Semua terlihat gloomy, bukan hanya karena aku yang mendadak sebal dengan Adam, tapi juga warna langit Leiden yang abu-abu, dan orang-orang yang menggenjot sepedanya hati-hati sama seperti aku yang kebanyakan mengenakan mantel berwarna gelap. Abu-abu dan sendu.
Aku suka musim dingin, aku suka salju, dan aku ingin melihat salju bersama kamu.

Pertemuan dengan Bapak Profesor untuk membahas tesisku berlangsung selama 1 jam, cukup untuk membuat jilbabku rada miring karena seringnya aku garuk-garuk saking bingungnya. Sang Profesor menunjuk-nunjuk file tesisku di laptopnya sambil memberitahukan dengan cepat mana saja yang harus ditambahkan dan digali lagi lebih dalam. Aku mengangguk sambil membuat catatan acak-acakan.

Are you okay?” Pak Prof mengambil minumnya.

Yes, I am..” jawabku sambil nyengir pasrah.

It’s good, then. You can submit your revision by next week.”

Oke deh Pak Prof. Ini revisi kok ya banyak banget kayak episode Cinta Fitri yang gak ada abisnya.

Aku mengambil handphone di dalam tas dan membaca chat singkat dari Tata, “Dila dimana? Gw udah di centrum ya. Buruan sebelum gw mati beku.”

Tata itu sahabatku sejak S1 di Bandung kemarin. Perempuan ini sudah benar-benar tahu apapun mengenai seorang Dila. Bahkan kadang kita gak harus cerita untuk tahu apa yang akan diceritakan salah satu diantara kita. Serem sih, tapi keren juga. Mungkin itu yang namanya telepati.

Aku memarkir si Coklat didepan toko kebab langganan.

Goedemorgen, your friend is waiting for you,” sapa Bapak Kebab sambil mengelap gelas.

Hi, Ali, haha. Thanks.”

Kamu lama. Hih!” Tata memasang tampang sok kesal.

Hahaha. Kan kalo winter naik sepedanya harus alon-alon asal kelakon. Lo udah pesen belom?” sahutku sambil jelalatan melihat menu kebab yang ditempel di dinding Kebab Baba ini, “apa berdua aja kebabnya?”

Yuk, gw juga gak laper-laper banget sih..” Tata berjalan menuju Ali untuk memberitahukan pesanan kami.

Kayaknya hari ini salju lagi deh..” ucapku ke Tata sambil melihat keluar jendela restoran.

Ciye yang setiap salju ingetnya Adam hahaha!”

Pret!” Aku memonyongkan mulutku sebal.

Kenapa coba namanya Adam? Kan gw jadi inget suaminya Inul, Adam yang kumisan lebat itu. Hahaha.”

Hahahaha! Sialan! Dia besok balik ke Indonesia katanya.”

Ohya, terus?”

Balik kerja di perusahaan yang kemarin kayaknya..”

Terus kalian masih aja temanan gitu gak jadian-jadian?” sindir Tata.

Yah.. temenan kan seru..”

Eh Dil, sesungguhnya digantungin tuh rasanya lebih pahit daripada diputusin.” ujar Tata dengan muka meyakinkan.

Au ah! Hore kebabnya dateng.. Bismillah.” Kebab yang asapnya menguar-nguar karena baru saja selesai dimasak dan tebal karena banyaknya cincangan daging diletakkan Ali di meja kami. Lengkap dengan dua garpu dan pisau plastik.

Betul saja, ketika kita keluar dari toko kebab, salju pun turun. Butiran putih yang menurutku sangat indah, apalagi kalau aku menengadahkan kepalaku dan melihat mereka turun dengan kompak. Cantik. Tata-pun akhirnya menyeretku ke cafe terdekat untuk meminum teh sambil menikmati turunnya butiran-butiran putih itu.

Ini kok lagunya…”

Galau…” lanjutku.

Dan kenapa di suasana yang romantis kayak gini gw malah minum teh bareng lo. Pathetic banget kita.”

Aku tertawa lalu memainkan cangkir teh yang masih sangat hangat, “… so close, so close.. and still so far..” gumamku mengikuti lagu Jon McLaughlin yang diputar di kafe.

………………………………………………………………………………………

Dil, kok bengong.” senggol Adam.

Hah? Maaf maaf, tadi aku tiba-tiba inget pas aku masih di Belanda 9 bulanan yang lalu, terus ngeliat salju bareng Tata. Kangen salju deh, Dam.”

Adam nyengir melihat aku dan mukaku mendadak terasa panas, “yeh malah nyengir-nyengir. Siapa coba yang bilang dengan sok romantisnya, ‘nanti kita ketemu dibawah salju ya..’” aku membulatkan suara meniru Adam.

Hahahaha! Kamunya malah ke Belanda sih. Sekalinya sekolah kok jauhnya langsung jauh banget.”

…ujung-ujungnya pas akhirnya kita ketemu lagi di mall-mall juga..” lanjutku masih setengah mengomel untuk menutupi rasa salting.

tapi senengkan ketemu aku lagi..” goda Adam.

Meh!” jawabku sambil memutar mata sok sebal.

Hahahaha! Kalau ketemu mie ayam seneng gak?”

Pake bakso yah, Dam, sama pangsit.”

Bang, tolong mie ayam lengkap dua ya..” ucap Adam ke Abang mie pangsit.

Disinilah kita berdua sekarang, di meja kayu yang ditutup dengan taplak plastik seadanya dan duduk berhadapan di atas bangku plastik ala penjual-penjual pinggir jalan. Ini bukan di Belanda, tapi didepan Monas. Panas dan pastinya gak ada salju. Tapi entah kenapa perasaan romantis, nyaman, dan bahagia ketika aku melihat salju aku rasakan lagi sekarang. Bahkan ditambah perasaan hangat. Dibawah terik matahari Jakarta ini aku merasa senang.

Dil, nanti ya kita sama-sama ngeliat salju..” colek Adam.

Tapi kali ini harus barengan..”

Iya.. in-sha Allah barengan..” Adam tersenyum lagi dan aku meleleh didepannya.

CIMG3433

12 thoughts on “Dibawah Salju

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *