Dua Strip

Pondok Gede, 25 September 2016

Sejak menikah saya jadi punya hobi baru: koleksi test-pack. Dari yang awalnya penasaran gimana cara pakainya, iseng ngecek setiap telat bulan atau gak enak badan, sampai saya kadang ngelakuin test-pack untuk isi waktu luang. Daaaan hasilnya satu strip terus. Dan saya pun mulai bosan koleksi test-pack.

Sampai akhirnya di bulan Agustus kemarin hasilnya jadi dua strip.

22 Agustus
Kemarin iseng lagi beli test-pack gara-gara telat datang bulan udah hampir 2 minggu. Gak ngarep banyak sih secara mens saya memang gak teratur. Tapi kali aja kan ya hasilnya bagus.

Alat test-pack sudah siap, pipis udah, sekarang tinggal tunggu 3 menit. Stay cool, Nyanya. Kalau memang masih satu strip ya berarti sebab saya menggendut gila-gilaan beberapa minggu ini karena kebanyakan makan.

3 menit sudah berlalu dan saya ngintip test-packnya.
Eh? Kok garisnya dua?

Saya langsung keluar kamar mandi bangunin Masnya, “Sayang, test-packnya dua garis!”

Masnya masih setengah sadar ngeliat test-pack yang saya sodorin ke depan mukanya. Dia langsung senyum sambil nutupin matanya, “yaudah.. aku gak tau harus ngapain.. hahaha.”

Truth to be told, I don’t know what to do either. I’m just sooo happy. I have a soon-to-be baby on my belly!

29 Agustus
Setelah setiap hari semangat test-pack dan dapetin hasil dua strip terus, malam ini kami memutuskan untuk konsultasi ke dokter obgyn di RSIA Sam Marie, Pondok Bambu.

Sepanjang perjalanan kita mengkhayal nanti anak kita akan lebih mirip siapa. Kelakuannya aneh gak kayak Papanya. Sampai bagaimana nanti rule kita sebagai orang tua. Yes, we’re ready to be parents.

Setelah menunggu selama sejam, akhirnya kami masuk ke dalam ruangan. Dokter menanyakan kapan terakhir kali mens. Saya jawab sebelum lebaran. Gak lupa saya tambahkan kalau mens saya gak teratur. Saya belum paham apakah ada efeknya antara mens teratur atau gak dengan kehamilan, tapi akan lebih baik kalau dokter tahu kondisi saya.

Dokter melakukan usg transvaginal agar dapat gambaran lebih jelas mengenai kondisi kandungan. Selama beberapa menit, dokter hanya menggeleng-geleng dan menghela napas. Saya jadi deg-degan, Masnya megang tangan kanan saya semakin erat.

Setelah USG, dokter mengajak kami ‘diskusi’, “tadi ketika usg, tidak ditemukan janin di dalam rahim Bu. Tapi memang ada penebalan rahim. Seharusnya kalau dihitung dari hari terakhir mens, kandungan Ibu sudah 8 minggu. Jadi sudah seharusnya janin sudah terlihat.”

“tapi tadi saya sempat menemukan gumpalan di saluran telur. Curiganya itu adalah janin Ibu.”

Saya jadi semakin bingung, “jadi gimana Dok maksudnya?”

“Curiganya Ibu mengalami kehamilan diluar kandungan (ektopik). Tapi kita test hcg kualitatif dulu ya untuk memastikan Ibu memang hamil atau tidak.”

Saya dan Masnya segera keluar ruangan dan menuju lab. Saya gak tau harus nangis atau bagaimana. Masnya langsung mengambil inistiaf mengurus semua kelengkapan lab dan menyerahkan tabung pipis ke saya. Beberapa menit setelah tabung tersebut saya serahkan kepada petugas lab, hasilnya keluar dan kami kembali ke dokter.

“Ibu positif hamil. Jadi iya, Ibu hamil ektopik dan harus segera digugurkan.”

“Gak ada cara lain, Dok?” tanya Masnya.

“Sayangnya gak ada, Pak. Ini adalah jenis kehamilan berbahaya. Kalau janin dibiarkan berkembang bisa membuat saluran telur Ibu pecah karena gak kuat menanggung ukurannya.”

Saya bingung. Bingung banget.

“Ini sebabnya apa ya Dok?”

“Banyak. Seperti keputihan atau infeksi. Intinya pembuahan terjadi tapi tersangkut di saluran telur ketika akan menuju ke rahim. Saya sarankan Ibu disuntik untuk mengecilkan kandungannya.”

“Berapa lama waktu yang saya punya sampai saya harus disuntik, Dok?”

“7 hari ya..” jawab Dokter sambil tersenyum.

Di mobil ketika pulang saya menangis. Kebayang betapa bahagianya beberapa hari kemarin ketika saya melihat dua strip di test-pack sampai obrolan saya dan Masnya tadi menuju RS. Kenapa cepet banget semuanya berubah 360 derajat?

Sepanjang perjalanan saya dan Masnya tidak berbicara apa-apa. Saya sibuk mengelap air mata, Masnya mengelus kepala saya.

Di rumah ketika saya sudah agak tenang, Masnya mengajak saya untuk mencari 2nd opinion. Yasudah, bismillah. They said every cloud has a silver lining, right?

30 Agustus
Hari ini saya full meeting tapi otak saya entah kemana. Rasa cape nangis semalem masih kerasa sampai sekarang. Tadi begitu Mbak Rany tanya hasil dokter bagaimana, saya otomatis nangis lagi. Mbak Rany, Mbak Desi, dan Andris langsung memeluk dan menenangkan saya.

Sebelum makan siang, Masnya minta saya untuk ijin pulang cepat agar bisa ke RS sore ini. Salah satu sahabat Masnya, Radita, sampai minta tolong ke dr. Ali Sungkar untuk memasukkan kami ke jadwal prakteknya yang sudah penuh di RSPI. Akhirnya kami keluar dari kantor saya di Sudirman jam 15.30 dan langsung ngebut ke RSPI. Sekitar jam 17 kami dipanggil ke dalam ruangan dr. Ali.

Radita menyarankan ke dr. Ali karena dokter ini adalah salah satu ahli fetomateral (kehamilan dengan resiko tinggi) terbaik.

Setelah menanyakan riwayat kondisi saya dan diagnosa dokter semalam, saya kembali di usg transvaginal. Setelah banyak mengangguk, dr. Ali mengajak kami diskusi.

“Jadi Ibu tidak hamil diluar kandungan,” jelas dr. Ali.

Saya dan Masnya menghembuskan napas lega. Alhamdulillah.

“menurut saya, kehamilan Ibu masih kecil sekali, makanya belum bisa terditeksi. Bukan 8 minggu seperti diagnosa yang sebelumnya. Mens Ibu gak teratur, jadi kita gak bisa hitung kehamilan dari jadwal mens,” lanjut dr. Ali.

“Oiya tadi kan ada buletan di saluran telur Dok. Itu apa ya?” tanya saya.

“Itu kista,”

Kista lagi! Buset.

“tapi ukurannya cuma 2 cm. Aman itu. Semua wanita juga punya kista, tapi memang ada yang hilang sendiri, ada yang membesar. Kista yang berbahaya kalau di atas 5 cm. Ibu tadi juga ada penebalan rahim. Itu bisa jadi Ibu memang hamil atau akan mens. Nanti Ibu test hcg kuantitatif ya. Besok sms saya hasilnya.”

Saya dan Masnya keluar ruangan dokter dengan lega. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

31 Agustus
Balik lagi ke RSPI untuk ambil hasil lab hcg kuantitatif. Kalau hcg kualitatif dengan urine, kuantitatif dengan darah jadi lebih detail kadar hcg didalam tubuh. Hasil dari lab nunjukin kadar hcg saya 515 dan langsung saya laporkan ke dr. Ali.

“Ada kehamilan 4-5 minggu. Evaluasi USG dan hcg diulang dalam 1 minggu,” balas sms dokter.

13 September
Balik lagi ke dr. Ali. Tapi kali ini ke tempat prakteknya di RSIA Brawijaya.

Setelah di usg transvaginal, dr. Ali ngajak kita ngobrol, “tadi akhirnya sudah kelihatan kantung janinnya. Kalau dilihat dari ukurannya, Ibu hamil sekitar 6 minggu.”

Akhirnyaaaa!

“tapi janinnya belum terlihat dan belum ada suara detak jantung bayi. Saya curiga ini kasus blighted ovum atau kehamilan kosong. Itu bisa terjadi kalau ketika terjadi pembuahan, telur atau sperma yang dihasilkan tidak sempurna. Tindak lanjutnya kalau benar kosong ya digugurkan. Ini bukan hal yang gawat kok jadi santai saja. Nah, tapi bisa juga janinnya belum terlihat karena mens Ibu gak teratur, jadi ada delay untuk janinnya. Cek lagi dua minggu lagi ya.”

Saya dan Masnya keluar ruangan dengan seribu pertanyaan. Kenapa, kenapa ketika udah dinyatakan hamil sekarang ada diagnosa blighted ovum? Kenapa?

“Sayang, kalau aku yang penting kamu sehat. Kalaupun memang bener kosong, gak apa-apa ya.Yang penting kamu sehat,” ucap Masnya sambil memegang tangan saya.

Hari-hari selanjutnya saya tetap yakin kalau sang janin akan muncul. Saya sampai minta Masnya untuk ngajakin ngobrol perut saya tiap sebelum tidur.

“Kakak, yang muncul ya. Sehat. Yang soleh, yang berbakti pada orang tua, jangan nakal. Muncul di tempat yang benar ya,” Masnya sambil mempuk-puk perut saya.

“Kak, Papa Mama sayang loh sama Kakak. Kita pengen ketemu Kakak. Ntar pas ketemu Dokter lagi, Kakak yang muncul yah, biar kita punya foto pertama Kakak.”

H-3 sebelum kunjungan ke dokter, saya semakin panik tapi sudah sampai ke tahap pasrah. Kalau memang sudah rejeki saya mendapatkan anak saat ini, alhamdulillah. Tapi kalau memang belum, yaudah saya honey moon lagi aja sama Masnya.

Tiap selesai shalat saya berdoa, “ya Allah, kalau memang akhirnya sudah tiba saatnya kami memiliki keturunan, tolong jagalah janin yang ada di kandungan hamba. Ijinkan ia tumbuh dengan sempurna. Tapi bila memang belum sekarang kami diberikan rejeki anak, berikan kami keikhlasan dan mohon datangkanlah rejeki itu. Insya Allah kami sudah siap menjadi orang tua.”

21 September
Hari ini kami ke RS Brawijaya tapi ke dr. Med Damar Prasmusinto yang kata Radita jagoan fetomaternal juga tapi pembawaannya halus banget dan punya senyum yang buat tenang.

“Jadi gimana kasusnya?” tanya dr. Damar sambil senyum.

“mau cek hamil lagi Dok. Kemarin sempat cek ke dr. Ali, ternyata ada perbedaan ukuran kehamilan dengan waktu mens karena mens saya gak teraatur. Terakhir cek baru keliatan kantung rahimnya,” jelas saya.

“Yasudah, kita transvaginal dulu yuk.”

Well, the truth will be told in no time.

Ketika alat dimasukkan ke tempatnya, langsung terlihat kantung kehamilan dan JANIN!
Ada janinnya!

“Nah itu ada janinnya.. ada detak jantungnya juga,” dr. Damar nunjuk monitor.

Saya menghela napas lega. Masnya maju mendekat ke monitor sambil tersenyum lega.

“Kita dengar detak jantungnya ya.”

Gujruk! Gujruk! Gujruk!

“Dok, itu suaranya? Cepet banget gak apa-apa Dok?” tanya Masnya.

“Gak apa-apa, memang begitu. Ukurannya 1,5 cm ya. Ibu hamilnya 8 minggu 0 hari.”

Akhirnya Kakak muncul! Kakak si Jagoan, yang kemarin malu-malu pas di usg kedengeran juga suara jantungnya. Alhamdulillah ya Allah. Sehat-sehat terus ya Kakak. Papa Mama sayang banget sama Kakak.

Foto Pertama Kakak - 8 wk 0 day

Foto Pertama Kakak – 8 wk 0 day

17 thoughts on “Dua Strip

    • Hahaha beda suami beda kagetnya atuh, neng :)) suami aku masih tidur soalnya. Jadi dia responnya senyum2 malu. Ujung2nya mah iyah dipeluk juga 😀

  1. Selamat ya Mbak, semoga kehamilannya lancar, Kakak bayi dan mamanya juga sehat sehat yaa…
    Aku udah tespek 2x dan alhamdulillah positif tapi belum mau periksa dokter sebelum telat haid 2 minggu (3 oktober), tapi kok baca blognya Mbak bikin aku khawatir yaa… Kayaknya harus periksa di minggu ini deh biar yakin.

    • Hai Acii.. mungkin ada baiknya langsung konsultasi ke dokter. Dan cerita yang lengkap yah kondisi kamu kayak gimana biar dokternya gak bingung.. sehat terus yah Aci dan debay :*

  2. Yayyy, akhirnyaaa ya mbaa debay nyaa muncul jugaaa.. tadi aku baca sempat tegang gitu di bagian hamil di luar kandungan dan kista kista >.< soalnya aku parno sama yg bgituan (padahal blom nikah juga)… sehat sehat terus yaa mba, debay nya juga ^^

    • Hai Astii.. iya alhamdulillah akhirnya debay muncul setelah segala drama hahahaha.. Kayaknya kita sebagai perempuan harus lebih aware tentang kesehatan ya bahkan mulai sebelum menikah..

      Aaamiin.. makasih yah :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *