#kode dan #nomention

Fenomena yang cukup sering terjadi akhir-akhir ini di sosial media adalah pemberian hastag (#) kode atau nomention setelah kalimat yang dituliskan di media tersebut. Dan setelah saya perhatikan, penggunaan #kode cenderung digunakan pada kalimat yang merujuk pada hal romantis. Sedangkan untuk #nomention, either romantis ataupun kalimat negatif (marah-marah, mengutuk, dan lainnya). Tapi uniknya, banyak juga pengguna sosmed yang menggunakan #kode atau #nomention di sosmed dimana si subjek yang ingin dia #kode atau #nomention-kan tidak berada disana.

Menurut saya pribadi, ketika kita menggunakan hastag tersebut sebenarnya ada kecenderungan dimana kita benar-benar ingin mengungkapkan kalimat berkode tersebut kepada si subjek, tapi karena malu, ingin lebih misterius, atau tidak ingin menciptakan hubungan buruk dengan subjek yang dituju jadilah si hastag digunakan.
Sehingga, menurut saya lagi, bila ada pengguna sosmed yang menggunakan hastag, misalkan di Twitter, tapi ternyata si subjek yang dikodekan tidak memfollow Twitternya, sama aja dengan nonsense, berarti komunikasi kamu tidak tepat sasaran dan efektif.
Melalui penggunaan kode tersebut saja si subjek belum tentu menangkap isi pesan kamu, apalagi kalau kamu menggunakan kode ditempat yang tidak sesuai?

Dan setelah saya sedikit observasi lagi, ada 3 macam maksud #kode:
1. #kode untuk banyak orang. Misalkan: Cowo-cowo yang solat Jumat sesungguhnya tingkat ketampanannya meningkat 80% (Maksud: dia mengodekan kepada semua pria bahwasanya pria yang solat rajin solat Jumat lebih menarik baginya),
2. #kode untuk satu orang. Misalkan: kangen deh sama kamuuu #kode (Maksud: ya dia kangen sama satu orang yang seharusnya ada didalam lingkungan Twitter atau Facebook atau di sosmed yang dia kodekan).
3. #kode bukan untuk siapa-siapa. Ini jenis kode yang dia sampaikan di sosmed yang tidak di follow atau digunakan oleh subjek yang dia kodekan.

Sebagai anak komunikasi (lulusan Universitas Padjadjaran angkatan 2005, sekalian promo haha), saya akan berusaha untuk membuat komunikasi saya efektif, efisien, dan tepat sasaran. Bila saya menggunakan kode di blog, mungkin karena subjek yang saya kodekan sering membaca blog saya. Atau ketika saya membuat #kode di Twitter, itu ditujukan untuk salah satu follower saya.

Singkat kata, penggunaan #kode atau #nomention tentu bukan contoh komunikasi 2 arah yang efektif, jadi gunakanlah dengan seefisien dan sejelas mungkin agar sang subjek setidaknya merasa di kodekan.

 

 

Rindu Kalian

Ada satu saat dimana gw sangat merindukan sahabat-sahabat gw yang ada diujung belahan dunia sana, yang sekarang ada yang lagi panik takut ketinggalan flight ke Pakistan dari Singapore, ada juga yang sekarang sedang tidur bersama bayinya, dan banyak lainnya yang sedang tidur menikmati hari Minggu mereka.

Ada saat dimana gw merindukan pelukan mereka atau sekedar cubitan ke pipi yang kadang buat gw sebel karena takut pipinya makin lebar.

Dan ada banyak saat dimana gw sangat merindukan tertawa bersama mereka. Atau sekedar curhat yang kemudian banyak diantara mereka yang akan mengatakan, “sabar ya Nya..” dan ada sedikit yang malah mengetawakan, “yah, lonya sendiri yang bloon!”

Sahabat bagi gw adalah bagian dari keluarga yang diberikan Allah tapi tanpa adanya hubungan darah. Mereka adalah orang-orang yang terkadang lebih paham gw daripada gw sendiri.

Dan mungkin gw jarang bilang ini ke mereka kalau gw bangga dengan mereka dan sangat bersyukur karena mereka selalu ada buat gw dan menjadikan gw sahabat yang menurut gw adalah golongan tertinggi dan termewah dari kasta pertemanan. Hahahaha.

Iya, di jam 0.02 waktu bagian Blaricum ini gw rindu dengan mereka yang jauh disana untuk kesekian kalinya.

Another Farewell

2 weeks from now at the same time inshaAllah I will be in Rome. Maybe now I’m sitting in the bus after struggling with my big luggage and seeing outside the window, exhaling and rolling back the time in Holland.

You know, perhaps now I’m having the ‘I don’t wanna say goodbye’ disease. It’s a disease which suffered by people who’s nearly to the time they should move to another place.
It’s like when I really wanted to resign from the biscuit company. 1 month before resign, I was so fed up with everything. With my bosses, with all the hectic jobs, with the calls from many agencies, with late meeting. I hate it! And when I finally submitted the resignation letter, I was hoping my last day at office would come faster.
But a week before it, everything became beautiful. Seemed like my bosses were angels then suddenly I loved them, I enjoyed the time when I got hectic and terrible calls from everyone, my office seemed pretty and homey, “gosh, really I will leave this office??” Then I felt my decision was wrong. Maybe instead of going to Italy it’s better to continue working in biscuit company. I can get all the biscuits I want! Who can’t resist that, anyway?

Then I realized it was just a disease before leaving something, that thing will turn into a very good one and makes us totally confused about the decision we’ve made.

Anyway, leaving the biscuit company of course made me sad and until now sometimes I do miss working there (as long my favorite friends are there too), but it was a good decision I think. I can’t compare the value of my experiences in Europe now with all my salaries there.

And now I’ll leave Holland, and the ‘disease’ already here, 2 weeks before the date. I’m kinda sad whenever I see my au pair kids. I wanna be here to see them growing up but I do wanna go back to Italy and have my not-too-early-wake-up-time again. Hahaha.
I don’t know until today that seeing the face of a baby while she’s sleeping is one of the most pleasant moment in the world. And I just know that a hug from 5 years old boy is one of the most sincere hug I can get from a boy. He hugs me because he loves me and misses me during he goes to school, no other reasons. And when both of them give me a kiss it will be the best day ever :)
Anyway, I’m going to miss my au pair parents. The way they always ask me in the morning, “Isyana, how was your sleep?” and when they reply my thank you with, “…you’re most welcome. No, I’m the one who should thanks to you for taking such a good care of my kids and the house.” And most of all, the way they discuss a plan to take care their children, somehow I see them as the secret agents who are discussing about something important for the country. Hahaha.

I’ll miss all the people here who can speak English very well, their friendliness, and they excitement when they know I’m Indonesian.
Ohya, and of course I’m gonna miss my solo travelling times. Get lost and found alone, chase the train, and come back home with hurt foot because of too much walking. Hahaha.. I feel so old.

When I just arrived here, my friend texted me: Today is so bright and beautiful. I think it’s a sign that your life in Holland will be really good!

Yes he was right :)

Impian, Cita-cita, dan Board of Wishes

Blaricum, Sabtu 1 September 2012.

Diawal bulan gw biasanya membuat list apa aja yang gw pingin capai dalam sebulan itu, dan juga kadang gw nanya ke sahabat gw, Rika, apa aja yang akan dia pingin capai untuk bulan baru ini. Untuk bulan September kali ini gw cuma pingin 2 hal:
1. Dapet beasiswa uang saku. Ya Allah, semoga dapet. Amin. Jadi selama ini gw cuma punya beasiswa yang mengcover tempat tinggal dan makan sehari 2 kali di mensa (kantin) dan gw super butuh beasiswa uang saku karena uang tabungan gw udah menipis, sedangkan gw harus bayar tuition fee, perpanjang stay permit, buat asuransi kesehatan, dan jalan-jalan (jreng!).
2. Ada deeeeh hahahaha..

Gw juga setiap tahun biasanya ngebuat list apa aja yang mau gw capai, apa aja impian-impian gw selama setaun atau 2 taun kedepan, dan biasanya gw ngebuat dalam bentuk board of wishes yang akhirnya gw tempel di kamar atau gw jadiin desktop di laptop.

Tahun 2008 pertengahan gw buat board of wishes untuk sampai akhir tahun 2009. Dan hasilnya, alhamdulillah semua terkabul walaupun ada yang meleset dikit, contohnya gw ternyata lulus bulan Oktober 2009 dan akhirnya gw sama sahabat-sahabat gw jalan-jalan ke Pulau Tidung. Tapi dari semua itu ada 1 hal yang belum kesampaian sampe sekarang, jadi terus gw tulis di board of wishes gw lainnya.

Akhir tahun 2010 gw juga buat board of wishes sampai tahun 2012. Dan ternyata, Allah menunjukkan hal lain, di perencanaan gw yang harusnya kuliah lagi di tahun 2012, gw diterima kuliah di tahun 2011 dan sekarang gw menuju tahun ke 2 gw di Italy. Life is full of surprises ya?

Dan inilah board of wishes gw yang terbaru sampai akhir tahun 2013:

 

Tolong jangan diketawain, atau berpikiran, “Ih Nyanya, tinggi bener deh cita-citanya..”
Kita semua berhak loh punya cita-cita yang tinggi, tapi juga kita punya kewajiban untuk mencapai si cita-cita itu. Gw pun menulis hal tersebut ga cuman sekedar nulis juga sih, gw punya perencanaan. Jadi gw membuat perencanaan sembari mencari cara agar bisa mencapai cita-cita gw dan juga pastinya berdoa. Bagaimanapun hasil akhirnya akan ada di tangan Allah, dan gimanapun itu pasti akan indah :)

Eniwey, gw selalu percaya sama impian, bahkan terkadang gw suka ngucapin aja asal, kali aja Malaikat denger dan kemudian nyatet mimpi gw itu dan disampein ke Allah. Tapi banyak alhamdulillah yang udah disampein. Kayak misalkan pergi ke Jerman. Sejak kecil, entah kenapa gw selalu pingin ke Eropa, terutama Jerman dan Belanda. Selalu 2 negara itu. Dan di awal Januari 2012, sahabat gw, Eka, bilang, “Nya, ke Jerman yuk, nemuin sodara-sodara gw yang ganteng.” “Mauuuuu!” Susah emang nolak buat ketemu sodara-sodara Eka yang turunan Indonesia – Jerman. Hahahaha. Tapi pas kita cari-cari tiketnya, semuanya mahal. Yasudah kita pasrah, tapi gw selalu bilang, “pengen ke Jerman deeeh..” Dan out of nowhere, gw dapet rejeki untuk ke Jerman buat dateng ke acara mahasiswa Aceh di Frankfurt. Allah baik ya..

Dan sekarang, gw selalu bilang ke temen-temen gw di kampus, “nanti kita ketemu di Turki yaaa..” ke temen gw yang dari Turki. “Tenang, ntar gw ke tempat lo,” ke temen gw yang di Polandia. Ke temen gw yang dari Amerika juga begitu, “jadi boleh nginep ya kalau gw dateng?” Ga ada yang tau kan kali aja tiba-tiba gw dapet rejeki dan berangkat kesana. Kayak yang ke Belanda ini yang emang menurut gw, gw emang sangat berjodoh dengan negara mantan penjajah ini.

Setahun yang lalu ketika gw dan 2 sahabat gw, Niken dan Maul di mobil menuju Bogor, Maul nanya ke gw, “jadi apa rencana lo Nya di Italy? Uang tabungan lo kan terbatas, paling cukup buat setaun tuh.” “Gw kayaknya mau jadi babysitter aja deh.. atau semacam au pair gitu.” “Di Italy?” “Mungkin..”
Dan di Februari 2012 gw mulai nyari kerjaan sebagai au pair. Ayah-Mama selalu ngecek gimana perkembangan pencarian kerja gw nyaris setiap minggu, “jadi gimana Nya? Udah nemu kerjaannya?” “Belum Yah, ini lagi dicari.” “Di Italy?” “Ga kayaknya, Nyanya mau di Belanda aja..”
Dan akhirnya gw apply-lah lowongan au pair di Belanda dan dapet balesan ‘not interested’ dari 3 keluarga. Rasanya pingin nangis dibawah shower. Coba ya, mereka ga tertarik sama gw, gw gituuu (terus kenapa? hahaha). Jadilah gw sakit hati sama keluarga Belanda dan mengalihkan pencarian keluarga ke Turki, Italy, sampai UK. Akhirnya ketemu keluarga Arab di UK, kita sudah email-emailan, tapi ternyata terbentrok masalah visa.
Di bulan Mei, Ayah nanya lagi, “Kerjaan di Belandanya udah dapet, Nya?” “Belom Yah, bentar lagi kayaknya, doain aja..”
Dan di bulan Juni ketika gw udah desperado dengan perekonomian gw dan udah siap-siap untuk minjem suntikan dana dari sahabat gw, gw dapet message dari keluarga Belanda yang belum pernah gw masukin aplikasi. Mereka bilang tertarik dengan foto gw (yang waktu itu lagi gendong bayi dengan senyum super keibuan) dan surat pendek yang ada di profile au pair gw. Jadilah kita email-emailan dan disinilah gw sekarang.

Sekarang, yang paling sering gw asal ceplos adalah, “Iya, gw nikah 2 tahun lagi. Doain aja hahahaha.” Dan ternyata kemarin gw ditegur sama sahabat gw, Henny, “Nya, lo jangan asal ngomong 2 tahun lagi, kalau misalkan lo ditakdirin ketemu jodoh lo sebelum 2 tahun gimana? Berdoa aja semoga cepet dipersiapkan.” Baiklah, Henny..
Oiya, sama satu lagi yang sering gw omongin sekarang, “Gw jalan-jalan keliling Eropanya taun depan ah sama Niken.” Semoga akhirnya dia akan terbang kesini dari Singapore, udah kangen gw foto jelek-jelekan sama dia.

Eniwey, gw juga pingin ngingetin temen-temen yang suka ngomong asal tapi bentuknya negatif dan pesimis. Hati-hati kalau Malaikat denger dan tercatat sama mereka dan kemudian Allah mengabulkan, nanti kan kalian juga yang dapet imbas ga baiknya. Menurut gw, positif dan optimis aja sama semua hal, ada Allah kok yang selalu memilah mana yang baik untuk dikabulkan mana yang belum baik untuk dikabulkan.

Ps: Insya Allah keliling Eropanya bareng Maul juga. Yeeyyy! Ga sabar buat teriak-teriakan norak di bandara Rome sama Niken. Dan Maul pasti cuman akan ngeliatin kita bedua dengan tatapan, “please deh guys, behave!” padahal diri sendirinya girang. 😀

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” (Arai – Sang Pemimpi)

Love is in the Air (?)

Love is in the air for some people and I’m glad to see that.. No, it won’t make me envy, especially when it happens to my friends. People who are in love are so cute and funny. I just saw the conversation between my friend with a girl he likes, and suddenly I was giggling and smiling for a couple of minutes. Hope they’re meant for each other.

What is so funny with people who are in love is the way they send texts or messages or talking, with cute line (or maybe some people, include me, will think it’s really ‘eeewww!’). Many of my best friends always told me to, “make a move, Nya! Say or do something cute!” Like whaaaat??? I’m not a person who can say sweet words to someone I like.
When I was a student in Indonesia, Niken and Maul (my best friends) one day came to me and said, “okay, Nyanya, we’ve found a really good guy for you. We think you’re match for each other.”
“????”
“Yes, yes, listen, you and this man are really different, but those are the things that can make you a good couple.” “………..”

Then, me and the ‘different’ man met. And yaaa, he’s good, and kinda my type. Niken gave me some ‘instructions’ to make a move to this guy and I followed almost all of those, and it failed. Hahahaha!
I think because when I did those instructions, I wasn’t myself. I was trying to be someone else. So now, whenever I’m interested with a man, I do what I wanna do. Not with saying cute lines or being so girly. I know it makes that someone thinks, “seriously, does she like me or not??”

By the way, I like to tell about my friends to my au pair mother. And one day, out of nowhere she asked me, “Is it good being in relationship, huh?”
“Ha?”
“With that boy.”
“Oh, we’re just friends.”
“But do you like him?”
“No, no, he’s just a friend.”
Then I turned back to her baby and smiled. For almost 3 minutes. Oh gosh, what happened to me??

Anywaaay, love isn’t in the air for me yet. Maybe it’s still hanging somewhere.

Buona giornata!

Haarlem – Zaandam – Utrecht

Jadi hari ini gw jalan-jalan sendiri lagi dan seperti biasa gw keseringan nanya arah ke orang-orang karena gw ga suka baca peta (dan kalaupun baca peta gw ga akan paham, kecuali petanya super simpel. Yah sebenernya ‘kebutaan’ gw pada peta udah keliatan sih cikal bakalnya sejak adanya pelajaran Geografi di SMP, yang gw pernah dapet nilai paling rendah dari semua nilai yang ada. Dan kemudian pas SMA gw harus remed terus pelajaran itu sampe akhirnya nilai di rapot bisa diatas 76. Alhamdulillahnya gw ga masuk IPS, gw pasti ga lulus ujian akhir karna geografi).

Eniweeey, rencananya gw hari ini akan jalan ke Harleem – Zaandam – Utrecht – Amersfoort. Rencananya lagi gw akan mulai pagi-pagi biar sampe rumah ga terlalu malem. Nah kenapa gw langsung kebanyak kota dalam sehari? 1) karena gw pingin lumayan ngabisin Belanda sebelum balik ke Italy, dan 2) gw punya daagkart (karcis kereta seharian bebas kemana aja).

Tapi kenyataannya seperti biasa beda. Harusnya gw berangkat jam 8 pagi. Tapi ternyata gw baru bangun jam 7.15, dan gw males buru-buru siap-siap, jadilah gw berangkat dari rumah jam 9. Dan ternyata alhamdulillah banget begitu sampai depan gang rumah, busnya sampai, jadilah gw langsung naik sambil nyapa supir dan seorang ibu Belanda, dan duduk dengan manisnya sambil buka tas nyari henpon. Obrak-abrik tas, si henpon ga keliatan. Glek. Langsunglah gw turun di halte berikutnya. Karena sebagai kawula muda, pastilah gw akan mati gaya tanpa hape dan juga in case ada sesuatu hal yang penting gw bisa ngubungin orang tua au pair gw.

Karena hari ini hari Minggu, busnya cuma beroperasi sejam sekali, jadilah gw mulai naik bus ke stasiun kereta Hilversum jam 10 pagi. Nah, hari ini menurut kabar berita akan hujan. Emang hujan sih, tapi alhamdulillah, nyaris selama gw jalan-jalan hujannya berhenti, kalaupun ada cuman gerimis. Subhanallah ya..

Gw sampe di Haarlem sekitar jam 11 siang dan baguuuuuus. Jadi disana itu seperti biasa ada sungai dan (akhirnya) ada windmill. Gw juga suka sama warna rumah di Harleem yang warna-warni, bener-bener cantik. Gw sebelum berangkat jalan-jalan sendiri hari ini punya misi untuk ‘gw harus punya foto gw sendiri di setiap kota’, jadilah gw menyetop pasangan suami istri buat minta difoto.

Kemudian tujuan kedua lanjut ke Zaandam yang katanya disana ada semacam desa yang sangat Belanda lengkap dengan windmill (lagi!), dan kita juga bisa ngeliat pembuatan sepatu kayu dan keju. Pas gw sampe Zaandam, gw langsung jalan aja entah kemana tanpa nanya kesiapa-siapa. Dan ternyata gw nyampe ke pertokoan yang jalanannya lagi di renovasi dan nemuin banyak diskon. Hahaha.. Cewek + diskon = kalap.

Dan gw juga ketemu seliter susu coklat yang harganya cuman 0,59 Euro, rasanya pingin langsung sujud syukur didepan rak susu. Karena di Eropa, harga susu coklat itu super mahaaaal, 500 mL harganyabisa diatas 1 euro. Hyeh. Jadilah gw ga pernah temu kangen sama si susu coklat sejak gw nyampe Eropa.
Abis gw makan kebab (dimanapun negaranya, kebab pilihannya hahaha), lanjut gw cari-cari si desa. Tanpa nanya. Dan ternyata gw nyasar. Jreng! Dan gw nanya sama abang-abang kebab, dia bilang ga tau. Gw tanya ke mas-mas Belanda, dia bilang “jalan aja luruuus.” (tapi tetep ga ketemu). Nanya Ibu-ibu katanya naik bus aja. Akhirnya nanya ke temen gw, Rifki, yang baru kesana, “harusnya lo turun 2 stasiun abis Zaandam, Nya.” Kenapa ga bilang dari kemaren-maren deh.

Sampelah gw di Oud Zaandijk yang ada desa super Belanda. Jadi disana ada museum-museum, toko suvenir, dan tempat pembuatan keju dan sepatu kayu di dalam rumah. Cantik dan beneran desa karena ada bison dooong. Kayaknya bison, kalau bukan, mungkin itu domba sejenis bison. Hari Kamis sebelumnya gw ngobrol sama Rifki, katanya kalo ke Zaandam harus hati-hati. Gw langsung was-was, jangan-jangan banyak copet! “lo harus hati-hati Nya di Zaandam.” “Kenapa gitu?” “Banyak orang Indonesia yang teriak-teriakan foto disana bareng rombongannya. Malu gw.” Hahahaha.. Dan pas disana gw cuman ngeliat rombongan turis Jepang, tiba-tiba, “Pah! Sini Pah! Kita foto disini!” Iyah, si Ibu teriak-teriak manggil suaminya heboh bener. Hahahaha. Tapi kalo dipikir-pikir, gw juga norak kalo lagi jalan sama temen gw. Contohnya pas jalan ke Universal Studio Singapore sama sahabat gw, Niken. Kita cuma berdua tapi ngegunain feature timer si kamera dengan semaksimal mungkin. Kita foto mulai dari gaya turis nyasar, raja dan ratu melambai, perampok bank, dan gaya-gaya aneh lainnya yang selalu ngebuat gw ketawa sendiri kalo ngebuka album Singapore itu. Dan kemudian gw iri sama kehebohan si Ibu dan turis Jepang. Jalan sendirian enak, tapi bareng temen tetep akan lebih seru.

Kemudian gw meluncur ke Utrecht yang ternyata stasiunnya cukup rame dan gede kayak Amsterdam Centraal. Dan karena gw harus ngejar bus dari Hilversum ke Blaricum jam 20.53, jadilah kali ini gw ga sotoy main jalan aja, gw tanya langsung ke information center dimana tempat kota tua Utrecht. Iya, gw selalu suka kota tua, kastil, dan semacam itu, karena bagi gw sangat romantis. Dan pas gw buru-buru jalan keluar mall (yang gabung sama stasiun), ada Mas-mas lari-lari dibelakang gw manggil-manggil, “Misi, Mbaknyaaa!” (dia pake bahasa Inggris ngomongnya sebenernya). “Ya?” “Tadi saya ngeliat Mbak dari stasiun dan Mbak Muslim kan ya? Saya tertarik aja mau kenalan.” Hening. Gw langsung ngeliatin dia dari atas sampe bawah, takut dia preman atau penculik. Tapi yaudahlah, kalopun gw sok-sokan bilang gw sibuk, dia juga akan ngikutin sepertinya. Jadilah jalan-jalan di Utrecht ditemenin sama si Mas yang dari negara M (lokasinya di benua Afrika, coba tebak negara apa itu), lumayanlah ya ada yang bisa dimintain motoin. Dan dari pembicaraan Masnya gw paham sih dia menuju kearah mana, tapi alhamdulillahnya dia ga agresif.

By the way, Utrecht tipikal kotanya nyaris sama kayak amsterdam, ada dam, rumah-rumah dipinggir dam, dan menurut gw lebih bagusan Haarlem.

Setelah pisah sama dia sambil dia ngingetin gw untuk ngirimin fotonya ke email dia, gw pun buru-buru balik ke stasiun untuk ngejar kereta ke Hilversum.
Alhamdulillah sampai Blaricum jam 21.15 dan aku senang karena akhirnya hari ini gw ngabisin beberapa kota di Belanda lagi.
Pokoknya target gw sebelum pulang ke Italia adalah menyelesaikan semua urusan di Belanda, salah satunya jalan-jalan dan ada beberapa hal lainnya yang kayaknya akan ‘beres’ sebelum tanggal 20 September.

Okay, tot ziens! :)

One Fine Evening

“Is it hurt having a labor?”
“Yes.. ummm.. but it’s not really hurt. I mean, you know when you get an injection on your arm, it will be hurt but just a second and after that you will feel nothing.. Having a labor is like that.. It’s just hurt in the process, and when you see your baby, you’ll feel so happy and grateful, and the process will be meant nothing to you. And you start wanting to have another baby. But don’t take it wrong. Maybe when you ask other people, they might say ‘it was hurt like hell!!’ Different person, different experience. But don’t worry, if give a birth is really painful, no women wanna have more than one baby or maybe they don’t wanna have one.”

“And how about the contraction?”
“Hahahaha.. yes, it’s also hurt of course.. And some women will have contraction since a week before giving a birth.”

“Gosh! Is the contraction same with when we have poo-poo?”
“Noooo, more than that..”

“Period?”
“Yes, when you get period, you know sometimes it hurts so much. But it’s a biiiiiiiiig period.. But, really, don’t worry. When the baby comes, you’ll feel so relieved and happy, because you finally got the baby and you’re a mother.”

“Have you ever felt ummm.. bored with your husband? Hahahaha.. You know, sometimes my friends scared of marriage things because  they think ‘what if I get bored with my husband?’ ‘what if he’s not the one or I’m not the one?'”
“Yes yes.. I know what you mean.. I once woke up and felt ‘what am I doing here??? I’m a wife! I don’t have my freedom anymore!’ But then I realized, it’s wrong.. Because actually I feel really happy with my husband.. He’s my only one, and I’m his only one too. So, Isyana, you’re still young. Here’s my advice, don’t get married because X factors; age, family asks you to get married while you’re not ready, status, or anything else. Just enjoy your time, go with the flow.. In the end of the road you”ll meet someone who makes you ‘I really wanna spend my life with him! A whole my life!’ Don’t be in a rush.”

-My au pair mother and me, one fine evening in Blaricum-

Si Bang Cameh!

Dulu, di jaman gw masih polos-polosnya dan rajin nonton Ksatria Baja Hitam, gw pingin banget punya abang.
Sampe gw mimpi Kotaro Minami tiba-tiba naik angkot yang sama dengan gw dan duduk mangku gw karena angkotnya penuh. Dan setelah itu selama sebulan gw selalu ngayal andaikan aja tiba-tiba gw punya abang yang belah tengah, ganteng, dan bisa berubah jadi mas-mas yang jago berantem pake baju ketat.

Dan pas ulang tahun, Mama nanya, “Nyanya nanti mau kado apa?” “Mau abang, Ma.” “Ha??” “Nyanya, mau abang, pokoknya Nyanya mau punya abang!” “Gimana cara Mama buatnya?? Klo pingin ade lagi sih bisa diusahain, kalo abang?”

Ternyata sekarang gw punya Abang.

Kalau kata orang-orang bijak, ‘yakinlah sama mimpimu, niscaya akan terkabul.”

Gw punya Abang, dan dia emang rada mirip Kotaro Minami poninya kalo lagi cupu-cupunya. Tapi dia ga memerangi kejahatan dan (alhamdulillah) ga suka pake baju ngetat.
Gw ketemu si Abang ini ga kayak cerita sinetron yang tiba-tiba ada abang-abang nyamperin gw dan ngomong sambil terisak, “aku Abangmu, Nyanya. Abangmu yang tertukar..” Lalu kita berpelukan unyu.

Jadi Abang gw ini adalah sahabat gw, sahabat yang ga sengaja gw temuin di kantor yang ga sengaja juga ternyata rumah kita searah jadinya dia nawarin gw untuk pulang pergi bareng (bukan gw dong pastinya yang minta nebeng), dan ga sengaja juga ternyata kita ‘nyambung’. Jadilah selama nyaris 1,8 tahun di kantor biskuit kemarin ngebuat kita akrab. Dan setelah kita berdua diterima di universitas yang sama di Italy, kita semakin akrab dan bahkan katanya makin mirip (ah tidaaaaak!).

Pas di bandara Soekarno Hatta 11 bulan yang lalu, gw udah siap-siap untuk nangis tersedu-sedu karena perpisahan di bandara kan selalu tampak sedih dan syahdu, apalagi keluarga dan sahabat-sahabat gw ada disana. Tapi kesyahduan itu gagal karena si Abang yang ternyata bernama Rifky ini sibuk ngurusin kopernya yang kelebihan 23 kg. Coba yaaaa, kalo kelebihan 5 kg masih bisa di nego, ini 23 kg, dan dia sibuk nyalahin gw, “lo gimana sih Nya, kan tadi gw nanya, bisa ga 2 koper???” “Kan gw bilang bisa Ki, 2 koper tapi totalnya 23 kg.” Dia kira bisa 2 koper yang masing-masih beratnya 23 kg. Heya.
Akhirnya sahabat-sahabat kantor kita berdua cuman bisa ngeliatin Rifky yang heboh ngeluarin kering tempe, saos sambel, dan makanan lainnya dari kopernya.

Ketika akhirnya kita harus mulai ngantri di imigrasi, Ayah manggil Rifky. Dan sambil menepuk-nepuk bahunya, Ayah bertitah, “Rifky, Om minta tolooong banget untuk dijaga ya Nyanya. Tolong nanti pas dia balik ke Indonesia, dia masih baik-baik aja..”

Dan ternyata Rifky sangat mematuhi titah Ayah walaupun awalnya sempet ngomel-ngomel, “pacar bukan, istri bukan, disuruh ngejagain..” Tapi toh ternyata dia sangat menjaga gw..

Ketika di bandara Fiumiciono Rome bareng anak-anak Unical dari Indonesia lainnya (sekitar ber-12), kita bingung bagaimana cara sampai ke KBRI karena kita harus mendaftarkan diri dulu disana sekalian kenalan dengan pihak Indonesia di Italy. Temen gw, Eunik, nyaranin buat nyari taksi atau kendaraan besar yang bisa disewa, “Ki, lo bisa nemenin gw buat nyari orang yang nawarin sewa mobil?” “Oh oke.” Lalu Rifky balik badan ke arah gw yang dari tadi diem karena selama di pesawat gw sama sekali ga tidur, “Nya, gw nyari penyewaan kendaraan ya. Lo disini jangan kemana-kemana.”
Kalau mau kemana-mana juga serem sih sebenernya, wong bahasa Italy gw masih dalam tahapan, “scusa, dove il bagno?” (Misi, kamar mandi dimana ya?). Tapi karena kejadian itu temen-temen banyak yang mikir kalau kita sodaraan. Hahaha.

Misi Rifky ternyata selama di Unical adalah “Membawa Nyanya utuh ke Indonesia, tanpa kurang satupun dan tanpa kelebihan apapun.” Makanya dia makin ngawasin gw, terutama kalau gw lagi tertarik sama cowo. Dia akan nanya (setelah gw cerita ke dia, karena gw selalu cerita apapun ke dia) bobot, bebet, dan bibit si cowo. Dan bahkan pernah ketika gw lagi ancang-ancang pedekate sama satu cowo dari negara lain di bar (di Italy, bar untuk tempat ngopi, bukan minum alkohol) yang juga udah diatur sama temen gw yang lain yang lebih kenal cowo ini, Rifky ikutan nongkrong di bar buat ngawasin gw pedekate. Ohya, dia bukan cuman nongkrong di barnya, tapi duduk di meja yang sama dengan gw, si gebetan, dan temen gw. Dan setelah si proses selesai, dia tiba-tiba ngomong, “kayaknya dia cowo baik-baiknya, Nya. Oke gw setuju.” Laaaah…
Dan pada akhirnya ketika gw pacaran dengan temennya si gebetan gw itu (hahaha!), Rifky selalu was-was nanya tentang progres pacaran kita, yang juga sebenernya ga ngapa-ngapain. “Kemaren ketemuan? Dimana? Ngapain aja? Yaudah, jangan lupa belajar, Nya. Pokoknya IPK harus bagus!”

Rifky ternyata ga cuman ngawasin ‘kisah romantis’ gw selama di Unical, dia selalu ngawasin tingkah laku gw yang kadang suka ‘asal’ didepan dia. Ya maksudnya, di depan dia dan anak-anak Indonesia di Unical gitu yang udah kayak keluarga kita disini, rada males juga gw behave. Dan kalau dia ngeliat gw ga behave, dia akan ngomel, “anak cewe kok gitu duduknya??? Yang bener!” Dan omelan-omelan lainnya yang akhirnya ngebuat gw ngerasa ‘bebas’ ketika akhirnya dia pulang liburan ke Indonesia. Hahaha.
Tapi toh akhirnya ngerasa kehilangan juga ga ada yang ngomelin, ga ada yang ngawasin, dan ga ada yang bisa gw buat was-was.

Sebulan yang lalu ketika orang tua gw ke rumah Rifky untuk ngambil Kartu Keluarga yang ga sengaja gw bawa ke Italy (yang ngebuat satu keluarga panik nyariin di rumah dan begitu Ayah nanya, gw jawab dengan pedenya, “ya ga ada disini, Yah. Ngapain juga Nyanya bawa-bawa KK ke Rende?” “Abis di rumah ga ada.. Coba Nyanya cari dulu kali aja kebawa.” “Ga ada beneran. Yaudah deh Nyanya liat.” Dan gw yang rada manyun karena merasa dituduh langsung buka laci lemari belajar, dan disitulah si KK tergeletak dengan manisnya), Rifky curhat ke orang tua gw.
Dia cerita nyaris semuaaaaa…
“Wah Nyanya kemarin sih pacaran cuman iseng doang Om, Tante. Dia cuman pingin tau gimana rasanya pacaran sama orang yang ngomongnya pake bahasa Inggris.” “Oh, kalo sekarang Nyanya katanya lagi deket sama bla bla bla..” Iyah, semuanya diceritain. Gw sampe panik pas skype-an sama Mama-Ayah dan mereka cekikikan ngasih tau kalo mereka udah tau semua hal dari Rifky. Ahhhhh!!

Dan Mama bilang, “… iya Nya, jadi katanya Rifky, mungkin dia sebenernya ditakdirin ke Italy emang buat ngejagain Nyanya..”
Ahahaha.. Abang Cameh gw itu..

Dia adalah orang yang paling sabar ngajarin gw nyetir, yang sering nungguin gw lembur, yang selalu ngejagain gw dan ngerasa bangga karna bisa ngejagain gw, yang selalu kuat ngadepin dirinya sendiri, yang selalu bisa jawab pertanyaan gw mulai dari pertanyaan abal-abal sampe pertanyaan cerdas, yang selalu bingungan dan lupa, yang kalau masakin 1 porsi buat 1 orang bisa ngabisin waktu sejam, dan selalu bisa buat gw ketawa ngakak.

Can’t wait to meet Abang Cameh again in Rende, the place where our journey was begun dan ga sabar buat mintain stok cemilan dia. Hahahaha.

1 tahun yang lalu:
“Nya, kita tuh partner in crime, kalo gw ada ide gila dan aneh, kita pasti nyambung.”
“Embeer.. dan kita akan mulai our amazing race, Ki, di Italy, bismillah ya semoga semuanya semakin baik.”

Note: Gw kenal dan cukup deket sama tunangannya, jadi tenang aja kita ga ada hubungan romantis kok. Dia Abang gw dan gw Adiknya yang manis :)

 

 

 

AKU CINTA INDONESIA! I Love Indonesia!

“I really love Indonesia. There’s part of me that really miss Indonesia, even I never been there. I love Indonesian food, the people, they are so humble and gorgeous! Ohya of course I like spicy food. Hahaha! You know, I have many kind of sambals in my kitchen. Sambel oelek, sambal badjak, sambal brandal, and what is it the stinky but really delicious one? Terasi! So great! And you know, my husband is infatuated with nasi goreng (fried rice). I hope I can go to Indonesia one day..” (Mrs. X, Dutch, lives in France)

“Wow, nice t-shirt, Isyana. May I see your back? Bali! I love Bali! I stayed there almost 2 weeks for holiday and it’s soooo beautiful. The beaches are great! Ah ya I also went to Manado, my husband dove there and he said he found many kind of beautiful under water creatures. Yes, and no doubt of it because Manado is famous for the world class muck diving. Oh gosh, instead of having summer in France, I really want to Bali..” (Mrs. X, Dutch, lives in Geneva)

“Excuse me, Ladies. Are you Indonesian? I heard you were talking in Bahasa. I know couple words of Bahasa. Terima kasih, selamat siang, selamat malam, makan. Hahaha.. Is it right? I live in London, but I’ve been to Indonesia many times and I love it. Satay, Rendang, ummm.. Cendol.. How I miss those foods. Okay, Ladies, sorry for interrupting you. Sampai Jumpa.” (Mr.X, lives in London, met in Frankfurt)

“Halo, selamat siang. Malaysian? Oh no, you’re Indonesian! Ah, so glad finally I can see Indonesian again here. I worked in Jakarta couple years before. Yes the traffic jam was horrible. Still like that? But it’s really a good city, with enormous buildings and shopping malls.” (Mr. X, met in Paris)

“Yes, I’ve been to Asia, but never been to Indonesia, just to Bali.”
WHAAAAT???
Bali is Indonesia.
Well, one of the biggest problem facing by Indonesia I think is its fame in the eye of the world. Many of people still think Bali is a country, not one of province under Indonesia.

I can’t suggest many options to solve this case. But as a student who study abroad, I have mission to introduce Indonesia to my friends through any media, including myself, my attitude as Indonesian.

In my campus, Indonesian students known as ‘polite party goers’ because what we mean with ‘making a party’ is having dinner together and then we play some games with music or sometimes one of us will sing. Just that. And luckily, even we surrounded by people who some of them think that cool party is being drunk, still there are many friends who would send these messages after attending our ‘party’: ‘Guys, it was a great party! I love your food!” “Invite me again when you make other party, I really would love to come.” “Hey my good friends from Indonesia, let’s hanging out together again!”

Last year, we celebrated Id Adha together with Tunisian, Turkish, Pakistan, Albanian, Italian, Sudanese, and many other countries. It was really nice. We prayed together then we ate together with foods from us (satay, perkedel, soup, and fruit ice), Tunisia, and Turkey.
And they loved perkedel and satay sooo much! We even made queue for food distribution. Hahaha..

My university, Universita della Calabria, regularly organize dinner from other countries so we will know better the differences of foods and cultures from any countries. Indonesia also participated on that dinner. We decorated mensa (canteen) with Wayang, Batik, map of Indonesia, and our nationality flag. Some of us who has good voices, not me off course, sang songs from in English, Italian, and Indonesian include Dangdut and songs from Benjamin. We also presented Nandak dance from DKI Jakarta, and amazingly they like it! For the closing we invited all of our friends there to do Poco-poco dance. So funny because it was the first time they did it and Poco-poco isn’t so easy to do, so most of them improvised the movement. So chaos and funny!

What I wanna say is, as students in abroad, we really enjoy our role as the representation of Indonesia. We’re happy explaining what is Indonesia, where is Indonesia, and making papers about Indonesia (because it’s also easier to be understood haha). We also try to make good impression to our friends from other country so they will appreciate and respect our values as Indonesian.
Because the good of one country is reflected by its own people. Do good thing, then your country will be respected.
Other people from other country love Indonesia, why can’t us?

Happy birthday Indonesia!

17 August 2012 (in Indonesia time)

"Kapan lulus? Mana Calonnya?? Kapan Nikah???"

Menurut gw kadang ketemu sodara pas lebaran adalah momen yang menegangkan karena pertanyaan mereka lebih susah daripada sidang skripsi dan selalu ada pertanyaan lain di tahun berikutnya.

Kayak misalkan pas gw duduk di bangku SMP kelas 3, ditanya, “Nyanya, ntar lulus SMP mau masuk SMA mana?” “SMA ini, Miwa.. (Miwa: tante).” “Itu unggulan ga? NEMnya harus berapa? Nyanya udah bimbel? Jangan main terus sama nonton telenovela terus Nya, harus fokus belajar bla bla bla.. apalagi jaman sekarang pergaulan makin bebas, anak SMP udah ngerokok, nyimeng, ngelem, mau jadi apa pula mereka.. bla bla bla bla..”
Dan gw cuman bisa ngangguk-ngangguk selama setengah jam kedepan.

Begitu akhirnya gw dikelas X, kebetulan waktu itu SMA gw termasuk dalam jajaran SMA ‘kelinci percobaan’, jadi di angkatan gw waktu itu kita mulai penjurusan di kelas XI. Dan begitu lebaran dan ketemu sodara-sodara, pertanyaannya mulai bercabang jadi masalah pacar, selain pertanyaan masalah sekolah yang ternyata cuman ‘kata-kata pembuka’
“Aduh, Inong (perempuan) ini udah gede ya.. Siapa pacarnya, Nak?” “Ga ada, Miwa.” (Kalaupun ada juga gw ga mau ngaku, ntar malah diceramahin karena masih SMA udah pacaran). “Ah masa belom punya.. Ada lah pasti, coba cerita ke Miwa..” “……………”

Dan biasanya Mama bantuin gw jawab dengan diplomatis, “Nyanya belum punya pacar umur segini, masih kecil. Nantilah pas udah kerja ya, Sayang?” “Lah, lama amat, Mam.” “Kuliah belajar dulu yang bener, lulus cum laude, dapet kerja yang bagus, baru punya pacar..” (Tapi pun pada akhirnya karena gw diem-diem aja selama kuliah ga pernah cerita tentang cowo ke Mama, Mama panik karna gw dianggap terlalu cuek sama cowo. Dan pada akhirnya pas gw diterima S2 di Italia, Mama bertitah, “1 bulan di Italy, udah punya pacar ya..” NAH!)

Ketika kuliah, pertanyaan mulai banyak, dari mulai “nanti mau kerja apa? Dimana?” Sampe ke pertanyaan yang buat gw panas dingin nyiapin jawaban pas lebaran tahun 2009, “Kapan lulus?”

Dan semenjak gw kerja, pertanyaan mulai sedikit ‘serius’, mengenai calon. (Ada tuh banyak calon, calon gubernur DKI!). “Calonnya udah ada belum? yaudah sama anak Tante aja mau ga?”

Gw sebenernya sedikit bersyukur lebaran jauh dari pertanyaan-pertanyaan itu, toh ketemu sodara juga palingan lewat FB, dan pertanyaan mereka juga sekitaran, “kapan pulang? Lebarannya di Indonesia ga, Nya?” Ada sih pertanyaan tentang calon yang diikutin sama ceramah panjang mengenai, “jangan lupa mulai serius cari suami, jangan sibuk sekolah terus, ntar ilmunya ketinggian nantinya banyak cowok yang minder.” “ya itulah Bang, klo sama cowo minderan, mana Nyanya mau.. Calon insya Allah nanti juga ada, yang jauh lebih baik dan hebat dari Nyanya.”

Kalau pertanyaan, “kapan pulang?”
Gw akan jawab, “Insya Allah tanggal 21 Februari 2014 Nyanya udah ada di Indonesia..”